Newest Info

Sonny Lazuardi — UX Engineer

27 Oktober 2017 | Dwinawan Hariwijaya via medium
post image

Dalam interview kali ini kita akan ngobrol bareng Sonny seorang UX Engineer di Grab. Kita akan ngobrol tentang role UX Engineer dan segala hal tentang bagaimana membuat sebuah produk. Yuk langsung disimak :D Halo, sekarang sibuk bikin tools & prototype untuk kantor sama bikin open source di github. Tugas UX Engineer itu untuk support Designer dan Researcher dalam menjalankan tugasnya. Supportnya bisa dalam bentuk bikin high fidelity prototype untuk testing dan bikin tools. Kami membantu dalam proses pengambilan keputusan terkait desain sebelum diserahkan ke Tim Engineering. Prototype yang tampilannya dan penggunaannya sudah sangat mirip dengan produk final. Prototype ini membantu researcher untuk mengumpulkan informasi untuk masalah usability. Semakin dekat suatu high fidelity prototype dengan produk final, semakin tinggi tingkat keyakinan tim desain dalam hal bagaimana user akan merespon atau berinteraksi dengan desain yang dilihat mereka. Beberapa high fidelity prototype dari Sonny | https://github.com/sonnylazuardi Untuk UX Engineer sendiri kita biasanya bikin prototype untuk sesuatu yang gak bisa dibikin lewat gambar dan butuh interaksi yang kompleks dalam app. Salah satu keuntungan lainnya adalah Menentukan mana teknologi yang cocok untuk diimplementasi. Jadi sebagai UX Engineer kami selalu membuat prototype dengan beberapa alternatif teknologi yang membantu dalam pengambilan decision nantinya. Profil Sonny di Github | https://github.com/sonnylazuardi Kalau untuk desain bisa menggunakan: Invision, Principle, Marvel, atau Flinto. Kalau mau lebih advance bisa menggunakan framer (karena bisa koding juga), Kalau mau advance banget bisa mencoba React.js untuk web, dan React native untuk app. Untuk temen temen designer, perlu memperhatikan beberapa hal terutama dalam mendesain interface aplikasi/web seperti memikirkan tampilan untuk device berukuran kecil. Biasanya ada beberapa komponen yang tidak ditampilkan dan ukuran font perlu disesuaikan agar info-info yang penting tetap ditampilkan Lalu tidak menampilkan animasi yang terlalu kompleks kalau bisa yang sederhana namun tujuannya tercapai karena seringkali butuh waktu untuk implementasi dan menambah size aplikasi atau makan memory. Pengalaman saya sebagai UX Engineer dan Frontend Developer (sebelumnya) memiliki tantangan tersendiri. untuk Frontend Developer perlu memikirkan edge cases (misal error handling) dan perlu testing (software) yang lebih ketat karena nantinya kodenya masuk production. Kalau UX Engineer harus lebih cepat bisa develop suatu fitur untuk di test, dan pada saat test bisa saja membutuhkan perubahan ditempat dan saat itu juga. Jadi harus memikirkan flexibility dalam code kita untuk adaptasi terhadap modifikasi nantinya. Kalau untuk UX Engineer sendiri perlu belajar lebih ke arah programming. kalau bisa belajar javascript karena banyak banget tools/prototype yang dibuat menggunakan javascript contoh: react native,…. IndonesiaIT 2017, [...], Artikel ini di ambil dari feed medium, untuk pengalaman baca yang lebih baik, silahkan kunjungi situ aslinya. IndonesiaIT - Software Developer Terbaik. Baca Selengkapnya.