Newest Info

Apakah Scrum Team membutuhkan manajer proyek?

15 Oktober 2017 | Joshua ??? Partogi via medium
post image

Old chain, old paradigm. Setiap kali saya menjelaskan kalau dalam Scrum Team tidak diperlukan seorang manajer proyek, pertanyaan yang dilontarkan kembali oleh manajer proyek adalah: “lalu siapa yang memastikan kalau proyeknya on-time, on-scope dan on-budget bila tidak ada manajer proyek?”. Saya tertarik untuk mempelajari kenapa banyak manajer proyek ini yang sulit keluar dari mental model lama, pola pikir Taylorism dari era industrialisasi, dimana harus ada sebuah peran khusus untuk mengkontrol proyek. Saya pun mulai membaca kitab sakti setebal 400 halaman yang disembah para manajer proyek bernama Project Management Body of Knowledge (PMBoK). Dari PMBoK saya menemukan bahwa seorang manajer proyek harus mampu mengkontrol 10 area subyek antara lain: Integration Scope Time Cost Quality Human Resource Communications Risk Procurement Stakeholder Tidak heran saya sering mendengar banyak orang yang menyebut manajer proyek sebagai control freak. Karena begitulah bagaimana manajer proyek dibentuk oleh institusi Project Management Institute (PMI), menjadi seseorang yang mengkontrol segalanya. Seseorang yang memiliki sertifikasi Project Management Professional (PMP) cenderung lebih dogmatis dalam hal kontrol karena untuk lulus ujiannya mereka harus menguasai bagaimana mengkontrol 10 area subyek di atas. Setelah melihat pertanyaan ini berulang-ulang ditanyakan oleh banyak manajer proyek, saya tertarik untuk menelaah lebih lanjut fondasi berpikir yang dianut oleh para manajer proyek ini. Menurut saya jawaban dari pertanyaan: “apakah Scrum Team memerlukan manajer proyek” tidak jauh lebih penting dari asal usul pola pikir yang menyebabkan pertanyaan ini dilontarkan. The thought process behind the question is more important than the answer to the question itself. Karena bila kita mengatakan kalau Scrum Team tidak membutuhkan manajer proyek para manajer proyek yang akan mencari alasan kenapa manajer proyek masih dibutuhkan bahkan di dalam self-managing Scrum Team sekalipun. Manajer proyek akan defensif terhadap dogma yang telah dibentuk oleh PMI terhadap mereka. Pertanyaan yang lebih penting untuk dijawab adalah, dari mana asal-usul dogma kalau Scrum Team masih memerlukan manajer proyek? Kenapa banyak manajer proyek yang ragu atau bahkan tidak percaya dengan konsep self-managing teams? Pola pikir seseorang sangat dipengaruhi oleh lingkungan di mana dia berada, termasuk dimana dia kuliah dan dimana dia bekerja. Organisasi seperti PMI hanya memberikan sesuatu yang dibutuhkan oleh perusahaan-perusahaan berdasarkan paradigma yang dimiliki oleh kebanyakan perusahaan. Sekarang pertanyaannya bagaimanakah paradigma yang dianut oleh perusahaan-perusahaan di mana para manajer proyek ini bekerja? Mari kita telaah. 1. Perusahaan dibentuk di atas tingkat kepercayaan yang rendah Leadership is communicating to people their worth and potential so clearly that they are inspired to see it…. IndonesiaIT 2017, [...], Artikel ini di ambil dari feed medium, untuk pengalaman baca yang lebih baik, silahkan kunjungi situ aslinya. IndonesiaIT - Software Developer Terbaik. Baca Selengkapnya.