Newest Info

Memanusiakan software developer

15 Oktober 2017 | Joshua ??? Partogi via medium
post image

Design and programming are human activities; forget that and all is lost. — Bjarne Stroustup (inventor of C++) “We’re hiring! Kalau kamu adalah software developer terbaik, mari bergabung bersama kami”. Kata-kata ini belakangan ini sering kali saya lihat di media sosial ataupun konferensi-konferensi. Yang cukup menarik perhatian saya adalah ternyata korporasi juga tidak mau kalah ikut-ikutan mengumbarkan kata-kata ini. Seolah-olah seperti raksasa yang terbangun dan tidak ingin tersalip oleh maraknya startup yang sudah sedikit menggoyang pasar mereka. Lewat public relations yang kuat korporasi pun tidak ingin kalah dalam menggaet perhatian para software developer terbaik. Mereka pun turut menampilkan gambar-gambar di sosial media seperti LinkedIn yang menunjukkan betapa bahagianya suasana di kantor karena adanya meja ping-pong dan ayunan. Semua ini mereka lakukan agar mereka bisa mendapatkan software developer terbaik. Namun belakangan ini saya agak skeptik dengan perusahaan-perusahaan yang paling rajin memamerkan keadaan di kantornya di sosial media karena sering kali perusahaan ini lah yang justru memperlakukan software developer seperti sampah. Bahkan software developer di perusahaan-perusahaan ini lebih berani curhat ke saya daripada ke manajernya sendiri mengenai kebudayaan di kantornya yang otoriter. Anehnya perusahaan yang menawarkan gaji fantastis juga memperlakukan software developer seenak-udelnya karena mereka merasa mereka sudah memberikan gaji yang lebih tinggi dibanding perusahaan lainnya. Apa yang dilakukan perusahaan-perusahaan ini terhadap software developer cerdas ini memang cukup ironis. Collective stupidity Collective Intelligence is the capacity of human collectives to engage in intellectual cooperation in order to create, innovate, and invent. — Pierre Levy Apa yang dilakukan perusahaan terhadap orang-orang cerdas ini? “Kami menginginkan talenta terbaik” adalah sebuah marketing gimmick tetapi sifatnya tidak genuine. Perusahaan bukannya memaksimalkan collective intelligence dari orang-orang cerdas ini, perusahaan-perusahaan ini justru membuat orang-orang cerdas ini menjadi bodoh dengan cara harus mengikuti birokrasi yang terkadang tidak masuk akal dan politik yang kental. Software developer harus mengikuti wahyu dari Bos tanpa boleh menanyakan dari mana asal-usul wahyu tersebut. Bos memandang kalau software developer adalah orang-orang bodoh yang tidak tahu bagaimana menjalankan perusahaan. Bos tidak melihat kalau orang-orang yang men-challenge dirinya adalah bentuk sense of ownership terhadap perusahaan. Bos tidak mengembangkan budaya mendengarkan dan bertukar pendapat dengan setiap posisi di perusahaan. Kapasitas software developer cerdas ini bukannya diperlebar tetapi justru dipersempit. Orang-orang cerdas ini akhirnya terkadang sulit untuk diajak berpikir di luar kotak karena mereka telah didoktrin untuk tetap berada di dalam kotak dengan mengikuti aturan-aturan baku dari orang-orang yang memiliki kekuatan politik tertinggi di perusahaan. Orang-orang cerdas ini tidak…. IndonesiaIT 2017, [...], Artikel ini di ambil dari feed medium, untuk pengalaman baca yang lebih baik, silahkan kunjungi situ aslinya. IndonesiaIT - Software Developer Terbaik. Baca Selengkapnya.