Newest Info

5 kontradiksi dalam ekosistem software development Indonesia

15 Oktober 2017 | Joshua ??? Partogi via medium
post image

cognitive dissonance (n): psychological conflict resulting from incongruous beliefs and attitudes held simultaneously cognitive dissonance (n): is the mental stress (discomfort) experienced by a person who simultaneously holds two or more contradictory beliefs, ideas, or values; when performing an action that contradicts one of those beliefs, ideas, or values; or when confronted with new information that contradicts one of the beliefs, ideas, and values Saya agak kesulitan mencari arti kata cognitive dissonance dalam bahasa Indonesia. Cognitive dissonance seperti kontradiksi di dalam batin seseorang karena apa yang dia lakukan sering kali tidak sesuai dengan apa yang dia percayai. Cognitive dissonance sering sekali terjadi dalam software development. Menurut wikipedia, cognitive dissonance merupakan salah satu gangguan jiwa. Sepanjang artikel ini saya akan menggunakan kontradiksi sebagai kata ganti cognitive dissonance untuk menyederhanakan. Harapan pimpinan perusahaan, manajer dan kostumer yang menggunakan jasa software developer seringkali bertolak-belakang dengan apa yang dia percayai. Kenapa cognitive dissonance bisa terjadi dalam software development? Singkat kata, karena banyak orang hingga hari ini masih mengganggap software development sama seperti proyek konstruksi bangunan. Tarik-menarik di dalam batin kita pada saat berada dalam konteks software development sering sekali terjadi. Perilaku kita sering kali tidak menggambarkan apa yang kita harapkan, perilaku kita lebih sering ketarik ke kutub apa yang kita percayai. Energi untuk tetap bertahan dengan apa yang kita percayai lebih kuat dibandingkan energi untuk meninggalkan kepercayaan lama agar bisa mencapai harapan. Ketika kepercayaan kita lebih kuat daripada keinginan kita, akhirnya kita terperangkap dalam sebuah dogma. Our own belief sometimes becomes an obstacle to reach what we hoped for. Dogma yang akhirnya membuat kita memandang bahwa harapan kita ternyata hanyalah sebuah fatamorgana. Sungguh ironis bukan? Dalam ekosistem software development cognitive dissonance seringkali terjadi. Akhirnya kita terperangkap dalam dogma kita sendiri, harapan kita yang begitu tinggi akhirnya kita pandang sebagai sebuah utopia saja. 1. Kita ingin prediktabilitas tetapi kita ingin adaptabilitas A guarantee in this life: Change! Flexibility is better than predictability! ? Evinda Lepins Perencanaan yang kita buat seringkali berdasarkan informasi yang terbatas mengenai masa depan, kita mengira dengan semakin lama kita membuat perencanaan masa depan tidak ikut bergerak dan kepastian akan semakin bisa kita dapatkan. Kita membuat perencanaan berdasarkan asumsi naif kita mengenai masa lalu, kita mengira sejarah akan terulang lagi secara persis, kita mengira masa depan adalah ekstrapolasi dari masa lalu. Mungkin juga kita bisa seperti ini karena tidak pernah memperhatikan guru sejarah sewaktu dulu sekolah. Kita merasa tidak nyaman dengan ketidak-pastian…. IndonesiaIT 2017, [...], Artikel ini di ambil dari feed medium, untuk pengalaman baca yang lebih baik, silahkan kunjungi situ aslinya. IndonesiaIT - Software Developer Terbaik. Baca Selengkapnya.